2025: What if I die early, and I have to face Eternity
Life is a collection of memories. It’s the time of the year again for me to reflect on how 2025 has been so far. I’ve seen this movie; the title is Eternity. A girl was given a choice to pick an eternity world in which to live, and who to live with. I’ve been abusing the fact that I’m 23 years old, dan fakta bahwa aku lebih sering menulis menggunakan bahasa Inggris sebenarnya memberikanku sedikit ketakutan:
- Apakah selama ini aku tidak berekspresi sepenuhnya
- Apakah selama ini caraku mengutarakan pendapat tidak pernah sepenuh saat aku berbicara bahasa Indonesia
Bahasa yang selama ini kugunakan dari kecil sudah lama tidak kugunakan dalam perjalanan hidupku 2 tahun terakhir. Ada banyak kata-kata rumit yang sudah kulupakan makna dan penggunaannya. Otak ku berusaha keras untuk menulis dalam bahasa Inggris, tapi jauh dalam lubuk alam bawah sadar, aku tahu bahwa aku masih berpikir dalam Bahasa Indonesia dan menerjemahkannya ke dalam Bahasa Inggris. Lagi pula, aku hidup besar dengan Bahasa Indonesia. Akal ku seharusnya berkali-kali lipat lebih ringan dan tidak membutuhkan kognitif yang lebih berat saat aku berbicara dan berpikir dalam Bahasa Indonesia.
Bukan berarti aku mengeluh, tapi level bahasa Inggrisku tidak akan pernah sepenuh saat aku berbicara Bahasa Indonesia. Inilah kenapa aku menulis bagian ini. Mungkin, aku akan menyelesaikan blog akhir tahun ini dengan sepenuhnya dalam Bahasa Indonesia.
Mari kita mulai pada bagian pertama
Sosial Media dan Sifatnya Dalam Merusak Pikiran Saya
After the Hololive concert in Malaysia back on December 19th, 2025, I’ve been really keen on solo travelling. In fact, I just got back from Fukuoka and Tokyo yesterday morning by the time I wrote this sentence (2026/01/06)! I got hit by a wave of depression back on the plane. Life feels so empty, and I don’t know how to set my bearings and direction in 2026.
Aku duduk diam di salah satu kursi di bandara Sultan Abdul Aziz Shah pada saat pada pukul 9 malam itu. Ada salah satu vending machine yang berisi banyak buku. Buku ini kupilih karena aku sudah mendengar banyak orang baca buku ini dan katanya hidupnya berubah. Mentalku dalam membaca buku ini ialah dengan tujuan untuk membantah sebanyak mungkin, tapi tetap berada dalam sudut pandang objektif bak niat meresensi buku ini.

Konten bagus yang kudapat ialah:
Persetan dengan Kebiasaan, Semuanya adalah Tentang Dirimu, Identitasmu
It’s never about the habit, all the actions that shaped you as who you are right now usually come from yourself. Agak susah membentuk suatu kebiasaan yang kau sendiri bahkan benci melakukannya. Tidak usah dari sesuatu yang susah-susah, kita anggap dalam menggosok gigi saja. Kalau kau dari awal sudah membenci gosok gigi, kau tak paham esensi dan manfaatnya. Tidak akan mungkin kau bisa membuat kebiasaan menggosok gigi.
Catatan: konten ini tidak ada di buku, tapi begini cara pandangku terhadap tulisan dan isi yang disampaikan dalam buku ini. Buku ini secara blak-blakan menyadarkan aku kalau semuanya adalah tentang identitas dirimu. Semuanya tidak pernah tentang bagaimana kamu bisa membentuk kebiasaan. Semuanya sebenarnya tentang: kamu siapa dan kamu mau jadi siapa.
Aku duduk termenung, aku menyadari segala sesuatu yang aku lakukan, dari seseorang yang punya tendensi likable dan sering diusik banyak orang, itu karena aku sendiri yang berusaha membentuk hubungan dengan mereka. Penampilan ku yang cenderung feminin, itu semua karena aku yang menyukainya. Aku suka memiliki rambut panjang, kuku yang cantik, raut muka yang ekspresif, badan yang sehat.
Kamarku yang jorok dan terkesan berantakan, itu semua karena aku suka keadaan ramai, keadaan dimana semuanya terlihat mudah diakses dan dapat diakses secara cepat. Itu semua karena aku suka variasi dan melakukan banyak hal yang aku sukai. Menulis blog, aku tidak menulis secara terpaksa, aku menyukai keadaan menuangkan ide dan pikiran. Bukan tentang gratifikasi dan kewajiban ataupun “kebiasaan” yang ditekankan dibuku ini. Aku melakukannya karena aku suka dan membacanya kembali memberikanku kebahagiaan. Satu-satunya cara agar aku ingat apa yang sudah kulalui.
Apa yang tidak bisa diberikan eternity, yaitu memori dan waktu yang terbatas seorang manusia.
Cengengnya aku, bayangkan aku meneteskan air mata ketika menulis bagian ini. Sambil menyetel lagu jazz favoritku karena aku tau itu membantuku menjadi fokus dan membuat pikiranku menjadi tenang.
Kalau Kau Pikir Bisa Bertumbuh 1% Setiap Hari, Kau Bodoh
Salah satu resolusi yang aku buat dalam tahun ini aku mau mengurangi mengucapkan kata-kata kasar. Aku merasa hal tersebut tidak terlalu memberikanku kerugian dalam hidup, tapi di lain sisi, aku tak melihat ada keuntungan dalam mengucapkan kata-kata kotor juga.
Mungkin selain menjadi lebih lucu dan ekspresif, tapi kurasa hal itu akan menjadi salah satu tantangan juga. Karena mengucapkan kata-kata kotor secara berlebihan malah jadi membosankan. Menjadi humoris tidak harus segalanya mengenai umpatan dan membuat jokes-jokes memaki vulgar. Semuanya bisa tentang ketidak-terdugaan dan cara unik dalam menyampaikan ide.
Tapi saat aku memberikan judul “Kau Bodoh”, disini aku tidak berniat untuk menyampaikan ucapan kotor, tapi memberikan konteks bahwa itu bukan hal yang realistis. Ucapan yang sebenarnya ingin disampaikan ialah kau tidak berharap semuanya adalah tentang bertumbuh. Apalagi 1%, bertumbuh secara 1% setiap hari merupakan konsep yang naif dan terlalu dieluk-elukan dalam buku ini.
Tumbuh 1% setiap hari akan memberikan mu grafik seperti ini:

Atau,

Bahkan bila diberikan eternity sekali pun, $y=c\log(kx)$ lebih tepat dibandingkan $(c+\frac{1}{k})^x$.
Lagi-lagi aku sadar bahwa dalam hidup, benar bahwa ungkapan bahwa you can be anyone, but not everyone, juga masih salah. Dari kecil, waktu-waktu emas seorang manusia kebanyakan terbuang karena manusia tidak tahu mereka mau dibentuk jadi apa. Ada tatanan dan struktur sosial seperti sekolah dan teman bergaul. Mereka tercipta karena manusia harus terus berkembang dan suatu generasi dibentuk dari generasi sebelumnya. Alhasil, seorang manusia yang belum dewasa belum terlalu bisa menentukan jalan hidupnya. Being anyone, menjadi tidak realistis lagi dalam hidup.
Sekarang, mari kusampaikan kenapa Atomic Habits ini lumayan mengubah pola pikirku, meskipun sedikit. buku Atomic Habits itu aku habiskan dalam satu kali 6 jam sesi baca. Sangat menakjubkan karena sebelumnya aku bukanlah seseorang yang pandai dalam membaca buku, terlebih lagi memiliki intensi tinggi untuk membaca buku-buku bertipe self-growth seperti itu.
Setelah pulang dari konser itu, aku memutuskan untuk keluar dari sosial media yang sering aku gunakan, yaitu X, dan mengurangi interaksi yang kudapatkan di Discord. Keuntungannya? Luar biasa. Aku berhasil menurunkan waktu sosial ku dari 12 jam 8 menit per minggu menjadi hanya 4 jam 45 menit, dengan menggantikan X menjadi waktu ku browsing Instagram. Kalau kupikir-pikir, waktu 12 jam 8 menit itu sebenarnya sangat berharga, kalau kupakai buat melakukan …… Ya sudahlah


Hal yang ingin kusampaikan sebenarnya adalah, dopamine detox itu bukan hal yang nyata, tapi sebenarnya kau hanya mengurangi waktumu untuk mendapatkan dopamine dari hal yang lebih tidak bermanfaat. Kukatakan berikut beberapa sumber sistem hadiah bagi otak yang kurang bermanfaat:
- Bermain sosial media.
- Masturbasi yang berlarut-larut—saat kamu terlalu asyik menonton porno atau berpetualang dengan fetismu tapi kamu tidak orgasme-orgasme, tapi malah menikmatinya dan setelah kamu orgasme, kamu malah masturbasi lagi.
- Berselancar di Tiktok atau Youtube, menonton video pendek yang berulang-ulang.
Kenapa hal tersebut menurutku kurang bermanfaat? Karena kamu tumpuk berkali-kali pun tidak akan membuatmu menjadi seorang manusia yang lebih ahli, lebih baik, atau memiliki kualitas yang bisa membedakanmu dari orang lain. Kecuali keahlianmu dalam mengetahui banyak referensi sosial media.
2026 Mau Jadi Apa? Setiap Kali Lawakan Terjadi, Aku Sedih
Masih ngomong tentang identitas diri. Salah satu alasan aku suka menekuni bahasa ialah bukan karena aku ingin memamerkan keahlianku dalam berbicara. Tapi aku cemburu, iri, dan merasa takut akan ketertinggalan ketika suatu kelompok atau grup tertawa, dan aku tidak tahu mereka menertawakan apa. Akan aku ceritakan lebih lanjut tentang ini dalam Blog Jepangku yang kuharap akan kuselesaikan minggu depan.
Kelak, akan kususun pada entri blog ini, tentang apa yang kuharapkan pada 2026 ini. Uniknya, aku merasa skema seorang James Clear rasanya sangat cocok di sini. Entah kenapa, setelah aku baca buku Atomic Habits itu, aku menyelesaikan 2 buku lain, yaitu Piranesi, How to Win Friends and Influence People, dan sekarang sedang membaca The Like Switch, dalam waktu kurang dari 2 minggu.
Aku merasa membaca adalah cara yang asyik dalam mendapatkan kebahagiaan, karena sifatnya yang bisa mendalamkan pemikiran filsafatku, belajar Bahasa Inggris lebih dalam, meningkatkan atensi jangka panjang—terbukti dari aku yang kini bisa lebih fokus dalam mengetik puluhan menit dan bisa menyusun pikiranku secara runtut.
Maka, aku akan mengapresiasinya dengan menulis resolusiku dalam bentuk identitas.
Aku adalah Seorang Essayist
Sejak dulu sebenarnya aku sudah hobi membaca dan menulis. Sebelum ide menulis blog dari beberapa orang di Fasilkom, UI. Aku sebenarnya sudah menulis diari sejak lama. Transisi ke menulis blog sebenarnya tidak berbeda jauh. Bagian yang berbeda hanyalah bahasa sudut pandang, konten yang lebih dimoderasi—walaupun aku merasa bodoh amat dan memasukkan semua rahasia kecilku juga, serta gambar-gambar yang lebih menarik.
Aku juga suka membaca novel, aku dari dulu sering mengikuti seri Lima Sekawan (The Famous Five)-nya Enid Blyton, Goosebumps-nya R. L. Stine, Bumi-nya Tere Liye, Percy Jackson, Omen, Erebos, novel-novel fantasi remaja lain, buku-buku National Geographics, dan masih banyak lagi. Orang-orang mungkin jarang tahu ini, tapi aku dulu sempat menjadi kutu buku bersama temanku Xena saat SMA. Aku juga suka membaca manga Detektif Conan dan Doraemon.

Menulis dan membaca bukanlah hal baru bagiku, hanya saja hobi dan identitas lama yang sudah tak sering kusentuh karena kesibukan sehari-hari. Terutama karena sosial media ini menghabiskan cukup banyak waktu-ku, aku jadi tak sempat lagi membaca dan menulis diari. Tapi aku perlahan mulai tersadarkan, apa gunanya hidup bila kau hanya menelan apa yang internet berikan padamu. Tidak buruk, tapi semuanya hanya akan menjadi bubur yang diaduk. Rasanya sama dalam setiap gigitan, bosan, dingin, dan tidak mengesankan. Semua tekstur hancur, sama, terlalu bersatu, tidak unik, dan berantakan.

Aku adalah Seorang Petualang
bertualang/ber·tu·a·lang/ v 1. mengembara ke mana-mana (tidak tentu tempat tinggalnya); berkeliaran; bergelandangan;
Menurutku, bertualang termasuk cara untuk menjegal, menyegel, menahan nafsu ADHD-ku.

2025 memberiku banyak kesempatan dalam mengunjungi beberapa kota besar yang ada di Asia Tenggara dan Asia Timur, perasaanku campur aduk karena di satu sisi aku bisa jalan-jalan. Tapi di sisi lain, aku masih tidak bisa lepas dari pikiran bahwa banyak dari kenalanku yang tidak memiliki privilege sebesar aku. Sangat asyik rasanya bisa ketemu banyak orang. Salah satu yang mengesankan ialah percakapan dengan dua pasangan dari India saat di Ha Long Bay, Vietnam, dan juga percakapan dengan keluarga Thailand saat di Miyazaki.
Aku bingung di bagian ini karena kebanyakan pesan-pesan yang ingin kusampaikan itu harusnya kuletakkan di bagian spesial di blog tempat ku jalan masing-masing, bukannya kuletakkan di blog resolusi seperti ini. Jadi jangan lupa untuk baca dua blog yang akan kutulis setelah ini!
Beberapa hal yang menarik juga selama tahun ini, aku beli beberapa alat dan memaksimisasi cara dalam aku bertualang.
Aku Masih Takut Naik Pesawat Lho
Sudah naik pesawat ratusan kali, aku masih khawatir saat pesawat lepas landas dan terjadi goncangan. Entah kenapa aku selalu merasa ada kemungkinan non-nol aku akan mati secara mengenaskan, yaitu jatuh dari ketinggian puluhan ribu kaki dengan napas terengah-engah dan cuaca dingin. Mendarat dengan kecepatan puluhan atau bahkan ratusan kilometer per jam di air atau daratan yang tumbukannya buminya akan mencelakai seluruh bagian tubuh secara instan. Di lain sisi, aku merasa jatuh dari pesawat adalah cara mati paling keren. Alasannya ialah kemungkinannya sangat kecil, kau akan dikenang, mayatmu menjadi misterius, dan tidak ada orang yang tahu kalau kau mati dalam keadaan depresi.
Mungkin, kalau eternity konsep yang ada, aku ingin mati jatuh dari pesawat.
Sudah cukup merasa depresinya, tapi bener lho:
While normal healthy individuals can tolerate altitudes up to about 10,000 feet (3048 m) with no harmful effects, individuals suffering from impairment of the respiratory or circulatory system may be less able to tolerate the mild hypoxia experienced at even this altitude. In an ideal world, the aircraft cabin would be pressurized to simulate sea level conditions.
The aircraft’s environmental control system (ECS) maintains comfortable pressure and temperature within the cabin. In most commercial civilian aircraft, pressurization is achieved by tapping bleed air from the engine compressors, cooling it, and distributing it throughout the cabin.
Source: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7152029/
Jadi intinya sebelum pesawat lepas landas kabinnya bakal direndahin tekanan udaranya yang bikin menjadi ngantuk. Suaranya yang ribut juga bakal membuat kita jadi stress. Makanya sebelum penerbangan, memanfaatkan momen ini, ya memang sebaiknya tidur saja biar pas sudah kebangun, pesawatnya sudah di atas dan terbangnya lebih tidak goyang.
Ngomong-ngomong tentang bertualang, berpetualang sendirian juga menurutku sangat asyik. Asia termasuk negara-negara yang aman. Apalagi Jepang dan China, keduanya sangat aman untuk berpetualang sendiri. Karena bertualang ini, aku ingin sekali belajar bahasanya.
Flighty dan Flight Connections
Ngomong-ngomong tentang bertualang juga, dekat akhir tahun ini aku menemukan dua produk bagus, yaitu Flighty dan FlightConnections.

Flighty adalah aplikasi yang menyimpan riwayat penerbangan yang sudah kita tempuh, dari model pesawat, tempat duduk kursi, rute dan memberikan recap dan data waktu langsung di setiap penerbangannya. Sementara FlightConnections ialah aplikasi pelacak arah, harga, rute penerbangan yang menurutku sangat komplit. Bisa difilter melalui jarak, harga, bandara, waktu tempuh, frekuensi penerbangan, dan masih banyak lagi.
Kedua aplikasi ini membutuhkan biaya berlangganan, dan lagi sebagai seseorang yang impulsif, aku membeli langganan keduanya, yang Lifetime! Jika aku hidup lebih dari 4 tahun, semuanya balik modal lho!! Semoga deh aku hidup cukup lama untuk menikmati apa yang aku tabur.
Airtag
Misalnya adalah memanfaatkan airtag sebanyak mungkin.

Sebagai seseorang yang jenaka dan ceroboh, aku butuh benda ini. Aku biasanya bisa panik apabila barang yang seharusnya ada bersamaku tiba tiba hilang. Jadi aku punya satu untuk airbudsku, cover passport, HP Samsung ku, tasku, dan dompet. Beberapa kali ini sangat berguna—bukan untuk travelling. Tapi saat kehilangan barang-barang dalam kehidupan sehari-hari—Jangan tanya kenapa ada satu untuk HP.
Bawa Backpack Sudah Sangat Meta
Kalau misalkan sedang travelling aku sudah tidak pernah bawa koper. Alasannya adalah apabila pesawatmu jam 14 sampai 12 malam, dan kau tidak ingin memesan kamar hotel lebih, ada baiknya bawa saja tasnya kemana-mana. Kalau aku sendiri, aku bawa bagpack besar semacam ini, semuanya muat dan jangan lupa manfaatkan laundry sesering mungkin! Paling malas kalau bawa baju kotor kemana-mana. Sudahlah tas bau, mencari baju nyaman pun susah.

Smartwatch Lumayan Meta
Kalau misalnya kamu tidur tinggal di hotel kapsul, biasanya larangan menyetel alarm sangat ketat, ada baiknya untuk menggunakan beberapa alarm alami yang lebih tidak agresif seperti jam tangan. Biasanya aku setel jam tangan 15-30 menit berkali-kali sampai akhirnya alarm untuk HPnya berbunyi. Enaknya jam tangan ialah getarannya bisa membuat sadar lebih cepat.
Sudah sih, sepertinya itu saja beberapa tips yang lumayan kepikiran saat aku menulis blog ini. Sisanya hanya tentang kepribadian-ku yang kusesuaikan sedikit biar ga “takut malu”. Konsepnya adalah tetap hargai batas pribadi masing-masing, tapi jangan malu untuk berinteraksi, toh mereka juga tidak akan menjadi teman selamanya dan mereka juga akan lupa.
### Aku Suka Puzzle dan Competitive Programming
Aku suka menyelesaikan puzzle dan competitive programming, rasanya begitu menyenangkan. Setelah beberapa kali main Escape Simulator 2, aku jadi semakin suka main Escape Room, baik di dunia nyata maupun di game. Senang rasanya menyelesaikan masalah-masalah dunia yang butuh “mikir”. Apalagi momen-momen ketika kita tahu solusi kita tidak akan didapat apabila kita lakukan tanpa dipikirkan.
Kalau dipikir-pikir juga, sebenarnya problem solving ini membantu kita menjauhi diri dari brainrot dan overusing AI. Kini, aku membuat komentar di kode saja sudah malas sekali rasanya. Otakku harus berpikir keras untuk menyusun kata-kata dalam Bahasa Inggris dan mengerti kodenya, membahas apa saja yang sudah aku tulis atau orang lain tulis. Bayangkan kalau aku menggunakan AI, prosesnya hanya tinggal mengulas dan memeriksa apakah yang ditulis sudah benar. Keahlian AI yang tidak bisa kita kalahkan ialah komprehensi. Tapi untuk menjadi pengendali teknologi yang bagus. Komprehensi kita sendiri juga harus bagus. Makanya penting buat kita untuk selalu mengasah atensi dan rentang perhatian.
Aku Seorang Pelari dan Rutin Ngegym
Dengan tubuh yang sehat, lahir pikiran yang kuat. Pola makan, pose duduk, dan keinginan ku buat berlari juga harus senantiasa kupertahankan. Selain untuk memiliki tubuh yang sehat, aku juga harus memiliki tubuh yang baik agar aku bisa beraktivitas lebih ringan sehari-hari. Pekerjaan kerah putih yang membuatku duduk di kantor seharian sebenarnya sangatlah membuat jantungku lemah. Duduk diam saja detak jantungku bisa mencapai 70. Untuk mengatasinya, aku berusaha untuk konsumsi protein yang cukup, kurangi makan karbohidrat, serta berolahraga secara rutin.
Tidak aneh, hanya itu saja identitasku pada 2026. Kalau dipikir-pikir, aku selalu menjadi seperti ini. Dari awal aku sudah menjadi seperti ini. Beberapa tujuanku sempat ada yang hilang karena satu dan lain hal. Tapi di akhir hari, aku tahu kalau itu terjadi karena kepayahanku dalam mengatur waktu.
Baiklah, itu saja review harianku untuk apa cita-citaku di 2026, dan hal apa saja yang sempat kupikirkan di 2025.
2025 ialah tahun yang indah, dan dengan ini, akan kututup tulisanku. Aku akan lanjutkan dengan mengunggah videoku di Youtube.