← Back to posts

Journaling on a plane

14 min read
LifeIntrusive ThoughtsBahasa Indonesia

Umurku sudah 23.5

Sekarang tanggal 15 Februari 2026, aku sudah berumur 23.5 tahun. Tidak terasa dulunya aku sering sekali menyebut kalau umurku masih 21 atau 20. Karena pada masa-masa itulah orang-orang sering menanyakan umurku berapa.

Aku sedang berada di ketinggian ribuan hingga belasan kaki di atas permukaan air laut. E-reader ku sedang rusak, dan aku benar-benar bosan saat ini. Tidak banyak hal yang saat ini bisa kulakukan kecuali menulis beberapa hal. Tapi ini tidak ada ruginya, menurutku menjadi bosan sebenarnya sangat menyenangkan, di situ lah dimana ide-ide liar bisa muncul, tapi selalu saja untuk menerapkan ide-ide tersebut butuh internet.

image-20260219003517023

Entah kenapa rasanya ingin sekali main HP, melihat femboy-femboy cantik di timeline X, atau melihat berita-berita terbaru di Hackernews di saat-saat tidak ada internet. Bosannya berlebihan, dan rasa kekangenan menikmati telepon genggam itu membuat kecanduan yang tak terkirakan.

image-20260217085116469

Hanya Sedang Punya Akses Macbook dan Membahas Gimmick Gadget

Tapi aku masih bisa menulis karena kebetulan aku membawa MacBook Air ku. Ngomong-ngomong tentang produk apple. Menurutku sangat bagus. Produk-produknya ringan dan mesinnya sangat kencang.

Sampai saat ini, aku masih mencoba-coba dan bereksperimen tentang bagaimana kombinasi telepon dan gadget-gadget yang pas. Di saat-saat seperti ini, portabilitas dan tenaga laptop seperti berbanding terbalik. Katakanlah sekarang aku suka sekali streaming—bukan menonton streaming, tapi kegiatan aku membuat konten. Tapi banyak sekali downside-downside yang harus dipertimbangkan.

Faktor-faktor perangkat yang bagus, menurutku ialah:

Baterai

Baterainya harus tahan lama—aku sudah pernah punya berbagai macam perangkat, namun tidak ada yang sebagus Macbook dari segi baterai, benar-benar tidak ada bandingannya. Mengecasnya super cepat, bisa dengan USB-C pula. Bila dibandingkan dengan perangkat lain pada umumnya, macOS menang telak.

Aku sudah hampir 6 tahun menggunakan Macbook Air M1 yang diberikan Money Forward saat aku intern, dan hari ini akhirnya aku tukar tambah dengan Macbook Air M4, apakah suatu keputusan yang baik? Mari kita lihat saja. Spesifikasi laptopku yang baru ini sangat gahar.

  • M4 10 Core CPU dan 10 Core CPU
  • Ram 24 GB
  • Storage 512GB
  • Keyboard JIS
  • Baterai 100%
  • Garansi Applecare satu bulan
  • Build laptop yang semakin ringkih, dan fisik yang masih halus dan rupawan. 
Dijual murah karena layout keyboardnya bahasa Jepang... Mas-mas penjual Hong Kong itu tidak tahu kalau layout keyboard Jepang bagiku menambah harga, bukan malah mengurangi harga. Aku pun sempat meng-gaslight mas-mas itu dengan modus pura-pura tidak jadi beli karena kaget layout keyboardnya bahasa Jepang.

image-20260219004051615

Aku tukar tambah dengan harga HK$5,700.00 dengan Macbook M1 ku yang RAM 16GB dan storage 256 GB. Ditambah aku bisa pura-pura cosplay menjadi orang Jepang beneran dan bisa menghindari percakapan dengan orang-orang Cina, Hong Kong, dan Indonesia yang ga jelas jika mereka menghampiriku saat aku sedang mengetik—karena keyboardnya ada hiragananya. Aduh apiknya.

image-20260219010331939

Pura-pura tidak mengerti saja!

Sampai jumpa macbook lama! Kenangan 5 tahun terakhir benar benar senang adanya..

image-20260219010623346

Sistem Operasi

Sistem operasi, lagi-lagi macOS berada di ambang—hampir bagus, tapi kurang. Ngomong-ngomong tentang Windows, aplikasinya banyak, softwarenya lengkap dan gampang dibajak. Apalagi bila didukung dengan dedicated accelerator, seperti GPU Nvidia yang kencangnya bukan main.

Namun ketika kita membahas tentang ngoding. Windows adalah OS paling sampah. Node.js nya tidak sempurna, version maintaining yang sangat payah, python nya yang tidak beraturan instalasinya, C++ nya yang sangat lambat kompilasinya, lebih payah lagi ialah keterbatasan cmd atau pun powershell yang bukan merupakan sistem UNIX-like. Disini Linux pun tidak membantu banyak. Dari segi OS, sebenarnya spektrumnya sangat gila. Buah simalakama benar-benar adanya. Maju salah, mundur pun salah.

image-20260219012410483

  • Kalau pilih Windows, ucapkan selamat tinggal untuk optimisasi baterai, dan mengembangkan perangkat lunak. Jangan berharap lama dan banyak pada laptopmu, sebentar juga akan rusak.
  • Kalau pilih Linux, ucapkan selamat tinggal untuk aplikasi-aplikasi seperti Photoshop, Video Editor Komersial, Game, OBS, dan Streaming. Meskipun ini adalah OS paling baik untuk mengembangkan perangkat lunak
  • Kalau pilih MacOS, ucapkan selamat tinggal pada aplikasi-aplikasi bajakan, dan NVIDIA RTX… Serta dompetmu. Jangan harap kamu bisa modifikasi aneh-aneh laptopmu.

Choose your poison!

Gimmick Layar Sentuh

Layar sentuh, pen, dan dwifungsi tablet. Setelah menggunakan Microsoft Surface Laptop Studio selama dua tahun lebih, berharap bisa menggunakan layar sentuhnya dan menjadikannya sebagai tablet, aku salah besar. Laptopnya terlalu berat untuk dibawa kemana-mana, kabel chargernya tidak menggunakan USB-C, bahkan saat menggambar atau corat-coret pun, tidak akan bisa kulipat layarnya, karena posisinya yang sangat awkward.

Laptopnya terlalu berat, tidak bisa dwifungsi menjadi tablet yang bisa dibawa untuk menonton sambi rebahan. Ketika menggambar, keyboard sebenarnya masih harus digunakan. Jatuhnya mendingan aku punya keyboard external saja...

Lagian apabila aku sedang di luar, aku juga tidak akan menggambar! Lah, lalu untuk apa aku beli itu? Awalnya ku kira bisa kugunakan untuk screen-share sambil corat-coret, tapi ternyata posisi mencorat-coretnya menjadi sangat aneh dan tidak nyaman. Layarnya separuh miring, ataupun miring seluruhnya. Tidak bisa kuangkat-angkat juga karena terlalu berat.

image-20260219013942637

Jangan beli laptop layar sentuh yang banyak gimmicknya..

Laptopnya juga cepat panas dan baterainya sangat payah karena ada RTX 3050 nya. Saat ku-install ubuntu pun, kernel-nya banyak kekurangan dan layar sentuhnya penuh BUG! Benar-benar tidak kusarankan. Aku sempat kepikiran menggunakan tablet, tapi malah butuh dua device dong, butuh tablet dan laptop sekalian kalau aku bepergian!

Tablet pun fungsinya tak banyak. Beli tablet hanya untuk menonton doang? Untuk menggambar software-nya pun tak lengkap karena sistem operasinya Android atau iOS seperti iPad. Hadeh. META menggambar tak lain dan tak bukan ya menggunakan PC gahar dengan pen tablet—kalau dipikir-pikir ya masuk akal begitu, ngapain kamu butuh device portable buat menggambar. Kecuali menggambarnya sambil rebahan.

image-20260219014152638

Kalau ingin menggambar dengan respons langsung, ya gunakan saja pen tablet yang ada monitor. Kalau ingin layar sentuh? Sepertinya memang harus beli monitor dengan layar sentuh. Karena lagi, layar sentuh sebenarnya hanya gimmick kalau kamu punya keyboard dan trackpad.

Portabilitas

Mencari laptop ringan ya harus masuk akal, kamu mesti hitung seluruhnya. Laptop-laptop windows yang ada di pasaran punya keyboard-keyboard membran yang rasanya tidak enak untuk mengetik. Belum lagi laptop-laptop yang charger-nya sebesar perahu kayu. Waduh, jatuhnya seperti bawa powerbank dengan kabel tebal sepanjang 2 meter. Jika terlalu ringan, tidak kuat untuk streaming dan meng-install software produktif. Jika terlalu gahar, baterainya menjadi soak dan tidak portable lagi. Ya, untuk traveller yang suka mengetik dan menge-blog, benar-benar tidak ada pilihan lain di pasar selain Macbook.

Kalau pakek tablet gmn, hock?

Jika kamu menanyakan pertanyaan di atas, silakan kembali daftar sekolah dasar.

Identitas yang Berubah-Ubah

Sekali waktu, aku ingin sekali main game PC di bus, sempat kubeli device seperti steam deck. Tapi terlalu berat dan benar-benar tidak cocok untukku. Ujung-ujungnya kutinggalkan di laci kamar dan tidak pernah kubuka lagi. Jarang-jarang aku melakukan laporan keuangan begini ke orang-orang.

Kalau mereka penasaran uang-uangku hilang kemana? Ya karena mencoba berbagai macam perangkat-perangkat dengan gimmick bodoh ini.

Ngomongin Handphone dan Tablet

Sama lagi dengan handphone, rasanya aku muak dengan setup-setup yang tidak pernah puas. Kala bosan pasti hendak menonton film, kan? Menonton film dengan HP bagaimana? Layarnya terlalu kecil, posisinya tidak nyaman. Menonton dengan tablet? Pas sih, namun setelah menonton, dipakai buat apa? Dibawa kemana-mana juga tidak nyaman. usecase tablet disini benar-benar hanya untuk menggambar dan menonton. Dijadikan perangkat pun tidak enak karena terlalu besar. Yang benar saja!

image-20260219015042355

Kala waktu bosan aku baca buku dengan tablet. Aku akhirnya memutuskan buat beli E-Reader Android. Ini mantap sekali, tapi sayang sekali, layar monitornya fragile banget dan mudah rusak. Sialan, di 6 bulan pertama-ku saja sudah rusak. Aku muak besar. Belum lagi karena E-Reader ku ada warnanya, buat memperbaikinya butuh biaya dua kali lipat.

Setelah kupikir-pikir, warna di e-reader itu lagi-lagi hanyalah gimmick. Brengsek. Tahunya telat.

Tapi enaknya, e-reader sebenarnya bisa dipakai untuk corat-coret. Terutama bila kuhubungkan ke komputer, bisa digunakan sebagai media corat-coret enak yang bisa discreenshare saat streaming.

Meta yang Sesungguhnya

Begini, kalau kau sedang meng-explore perangkat apa saja yang cocok denganmu, coba lah. Apabila terbatas budget, ya sudah lah. Tapi setelah beberapa lama travelling, aku sadar kalau perangkat yang pas untuk ku itu ya begini sebenarnya:

  • Sebuah PC gahar yang ada di rumah, di-install dengan Windows dan dual boot ubuntu, pastikan storagenya minimal 4 TB. Ini bakal jadi perangkat utamaku. Aku tidak tanggung-tanggung saat kemarin merakit PC. Tolong jangan tersedak dan menge-judge. Laptop ini kugunakan untuk menjalankan whisper, stable difussion, beberapa LLM, main game AAA, streaming, menulis blog, menjalankan Vtube Studio, meng-compile LLVM, mencoba-coba parallel programming. rendering video serta 3D model, dan yang pastinya BUKAN MAIN MINECRAFT SAJA.—Kubeli hasil rakitan orang yang kabur dan penjualnya akhirnya menjualnya ke aku dengan harga lebih murah.
    • RAM 32x2 GB DDR 5
    • Storage 4TB pcie 5.0
    • RTX 4070 TI Super
    • Intel Ultra 265K

image-20260219015137033

  • Laptop gahar dengan merek China, Mechrevo, kutinggalkan di kantor, karena mereka pelit dan tidak memberiku perangkat bagus untuk kucoba-coba sendiri. Laptop ini aku install ubuntu saja, dan benar-benar kupakai untuk menjalankan PyTorch, CUDA, dan belajar parallel programming. Laptop ini juga cocok sekali untuk streaming. Jadi beberapa kali aku pakai untuk streaming dan main di luar, seperti saat Liga Kompetitif Indonesia, dan beberapa acara game-night lainnya bersama teman-temanku.—Kubeli secondhand
    • Ram 32GB
    • RTX 5070
    • Processor AMD 9000 series, aku lupa yang mana
    • Storage 1TB

image-20260219015258793

  • Macbook Air 2025 yang kini kubawa kemana-mana saat travelling, untuk menulis blog dan mencoba-coba banyak hal ketika bosan—Kubeli second

    • RAM 24GB DDR5
    • M4, 10 Cores (4 Performance and 6 Efficiency)
  • Keyboard:

    • Aku punya dua keyboard, yang satunya Akko Tokyo World Tour yang 84 keys, kupasang Switch Kailh Winter yang Clicky.
    • Satunya lagi Akko Monet's Pond 108 keys kupasang Switch Kailh Super Speed Bronze yang Clicky

image-20260219015421066

  • Kamera
    • Canon M50ii, lensanya banyak sih, kupakai untuk foto-foto casual saja, saat ini belum berniat ganti karena skill fotoku sepertinya masih payah.—kubeli second, bahkan semua lensanya kubeli second.
    • Yolo Cam yang pakai lensa M3/4, kupasangkan lensa wide untuk streaming di kamar.—Lensa nya kubeli second
  • Mic—Sebetulnya aku punya beberapa dari AT2020, Shure SM yang mana gitu, tapi saat ini yang aktif kugunakan ialah Rode NT1 5th Generation. Kupasangkan dengan audio interface Focusrite 6i6 yang model baru. SEMUANYAA SECOND!
  • HP
    • iPhone 17 Pro Max 😳—Kubeli secondhand
    • iPhone 14 Pro Max (Sekarang sedang ada masalah di SIM cardnya, jika sudah kupindahkan akan kuberikan ke ibu atau kakak-ku)—Kubeli secondhand juga
    • Samsung S21 Ultra 5G—kubeli secondhand juga, tapi di Indonesia.

HAHAHA! Seru sekali sebenarnya tinggal di Hong Kong, karena hampir semua device yang kubeli itu second. Banyak sekali barang-barang elektronik masih bagus yang dijual lebih murah karena hanya dipakai sekali dua kali saja.

Tidak Terasa, Ya

Tidak terasa aku sudah menulis blog ini selama 150 menit hingga 200 menit, penerbangan ku ke Kuala Lumpur pun ini sudah mau mendarat. Sebenarnya tadi aku kepikiran membuat sebuah buku yang berjudul TimeBomb. Buku tersebut akan kutulis tersebut dengan tenggat waktu 1 minggu yang akan kupublish secara otomatis. Tentu saja hal itu terdengar bodoh, jadi aku akan selalu mengundur waktunya selama aku masih aktif (tapi paling lama ya seminggu).

Apabila terjadi apa-apa kepadaku, TimeBomb tersebut akan tersebar secara otomatis dan menjadi sebuah kenangan post-mortem yang sangat indah. Aku akan segera mengimplementasinya jika ada waktu.

Ngomong-Ngomong Tentang AI

Baru-baru ini aku melihat banyak sekali video video buatan Seedream 2.0, yang merupakan model terbaru dari Bytedance yang bagus sekali. Pekerjaan artis seolah-olah bisa hilang karena beberapa bagian yang dulunya tidak begitu detail kini sudah semakin detail. Sebenarnya banyak sekali callout postingan di X, oleh banyak sekali orang-orang, yang tidak mengindahkan AI Art.

Argumentasinya ialah kesannya yang tidak memiliki hati, pelatihan datanya yang tidak berizin, dan adanya suatu uncanny valley yang saat ini tidak bisa di-cope oleh para konten kreator dan artis. Bagiku, jujur aku sudah mulai lelah dengan proses cancel mengancel AI ini. Aku jujur, kurang setuju dengan tindakan beberapa orang yang terlalu mengotak-ngotakkan orang yang menggunakan AI Art dan yang tidak.

image-20260220010120103

Di mata hukum dan hak asasi manusia, consent adalah segalanya. Beberapa VTuber tidak setuju diri mereka direpresentasikan oleh seni yang di-generate oleh AI. Argumentasi hak cipta pun tidak terelakkan disini. Di lain sisi ada pihak A yang melatih model mereka dengan gambar dari sosial media yang secara izin memang lah hak perusahaan A, berdasarkan persetujuan yang dibuat oleh mereka. Namun unggahan yang di-upload pun bisa saja tidak ada consent nya dari sang pencipta.

Perusahaan A bisa saja menjadi Jaksa Bijaksana dengan memberikan pilihan bahwa apakah sebuah gambar bisa secara opsional diberikan untuk model AI sebagai referensi latihan. Namun, karena keserakahan, tentu saja tindakan tersebut gegabah bagi para pencipta keuntungan dan kapital.

Di sini moral menjadi taruhan. Apakah layak bagi seseorang untuk menyebarkan gambar yang ia generate menggunakan AI. Nilai kerja keras menjadi hilang di sini. Namun tanpa kerja keras bukan berarti hal tersebut menjadi buruk. Hal tersebut hanyalah menjadi bentuk biasa bagi manusia yang mengelukkan seni, karena pada dasarnya seni berkaitan erat dengan proses penciptaannya.

image-20260220005741995

Bagian yang tidak kusukai dari oknum pengancel AI ialah approach-nya untuk mengurangi penggunaan AI dalam seni. Dengan adanya gen AI sebenarnya orang mendapatkan inspirasi yang baru. Tapi menciptakan ketakutan berlebihan bagi orang-orang yang ingin mendapatkan perhatian dan kepuasan akan AI menjadi tertahankan secara munafik. Begini maksudnya. Seolah-olah setiap orang dipaksa untuk menganggap bahwa gambar AI itu jelek, gambar AI itu hina, dan buruk. Padahal orang-orang tidak mau mengaku saja kalau gambar AI akhir-akhir ini itu indah dan tidak buruk, mereka punya nilai humor, nilai seni dan kreatifitas tersendiri.

Orang-orang hanya takut diri mereka tergantikan oleh sesuatu yang instan dan lebih kreatif dari dirinya. Aku saja, sampai takut buat me-repost konten AI konyol di Twitter karena banyak sekali orang benci AI art.

So um.. The things about AI from my POV are:

  • AI Art sudah tidak dapat dihentikan, orang-orang masih akan menggunakan AI art dalam kehidupan sehari-hari. Tidak heran akan ada film produksi lebar yang menggunakan AI generated contents. Harga dan efisiensinya jauh lebih terjangkau..
  • I will still connect with artists! Because I feel art is about the process, connection, and the beauty of the creator!
  • Those people who feel like arts are otherwise.. It's okay, don't cancel them, it's a new thing and people are adjusting... 😭

Brainrot dan Brainrot

Kemarin aku sempat lihat di Twitter ada iklan di Cina yang melakukan lipsync pada SPG nya saat livestreaming. SPG nya hanya diam saja sambil melakukan pameran-pameran pada produknya. Namun suaranya keluar sendiri dan bibirnya bergerak sendiri. Distopia apa lagi ini....

Sekarang, generator suara sudah semakin populer. Anehnya stand orang disini menjadi double standard karena tidak ada yang mempermasalahkan Text-To-Speech yang suaranya seperti robot. Tapi malah mengancel video-video yang suaranya diisi oleh AI yang masih rada Uncanny.

image-20260220101240801

Nah, sekarang masalahnya. APA BEDANYA?

Pertanyaan terakhir bukan penekanan bagiku untuk orang-orang agar menjustifikasi AI generatif di bidang suara. Tapi merupakan sebuah pertanyaan yang digunakan untuk manusia agar mereka berpikir dan bisa memperalat AI.

AI kini sudah lebih pintar dibanding sebagian rakyat Indonesia. Kalau ditanya mendingan punya asisten AI atau asisten manusia, aku akan berpikir dua kali. AI kini menjadi lebih reliable, cerdas, dan mampu melakukan tugas-tugas yang manusia tidak bisa lakukan.

Apa buruknya hal ini?

Akan ada semacam IQ gate antara orang-orang yang bisa memanfaatkan AI, dan orang-orang yang dimanfaatkan oleh orang-orang yang bisa memanfaatkan AI.

Manusia itu suka sekali dengan informasi, dari zaman batu saja manusia sudah berkumpul bersama untuk bercerita dan bertukar informasi. Bahkan duduk dan mendengarkan sejarah dunia saja sudah asyik sekali. Apalagi duduk dan mendengarkan fakta-fakta pendek sejarah makanan, perselingkuhan selebriti, melihat review gadget, melihat orang jalan-jalan, atau pun menonton VTuber yang main game.

Jadi, apa gunanya hidup manusia? Tujuan hidup manusia kini menjadi semakin luntur, mereka mencari cara untuk mendapatkan kapital, agar bisa hidup sedikit lebih baik dibandingkan manusia lain.

Kini tujuan hidup manusia pun berubah seiring adanya Financial gate. Orang-orang yang tidak bisa memilih untuk melakukan apa yang dia mau, dan orang-orang yang memilih untuk melakukan apa yang dia mau.

Gate-nya menjadi lebih parah lagi, karena tidak hanya satu dimensi, namun ada moral gate yang menentukan apakah tujuan hidup manusia itu mulia atau tidak.

Jika tujuan hidup manusia tidak mulia, ya akan berakhir seperti Epstein atau pun Raffi Ahmad, memperoleh kebahagiaan sendiri terus menerus dan tidak peduli akan kemajuan hidup manusia.

Jika tujuan hidup manusia mulia, mungkin bisa berakhir eksentrik seperti Elon Musk dengan eksplorasi sains, komputasi, atau matematikawan yang berekspresi untuk menemukan sistem yang lebih baik.

Jika manusia belum punya kemampuan finansial yang cukup, manusia belum terlalu bisa memberi arti bagi kehidupan selain membuat dirinya sendiri bahagia.

image-20260220101206760

Sempat pernah kulihat artikel keren tentang suatu RT di Jakarta yang berhasil disulap menjadi hijau dan asri. Itu membuatku berpikir-pikir lagi. Apa aspek hidup manusia yang bisa digalakkan oleh orang-orang dari berbagai tingkatan kemampuan finansial?

Comments