← Back to posts

Mengapa Menulis Itu Penting?

3 min read
Sastra Indonesia

Yang gerakin perubahan itu siapa yang berhasil bikin orang peduli. Tapi kalau cuma packaging, kenapa banyak influencer yang bikin konten aneh setiap hari tapi tidak memulai pergerakan?

Kata-kata dari video dengan judul "Ikan Aneh Ini Bikin Gubernur DKI Jakarta Panik..." membuat aku berpikir dua kali.

Konsistensi dan percaya diri itu ya self-efficacy katanya. Kegiatan melakukan sesuatu tanpa perlu ada orang yang melihat, percaya dengan kemampuan diri sendiri. Tanpa perlu adanya motivasi besar dari luar. Selama lebih dari 1000 hari berturut-turut, aku pernah menulis buku harian setiap hari. Tidak pernah aku tunjukkan alasannya. Tidak pernah ada yang meliput, tidak pernah aku sebarkan. Alasannya sederhana, aku bosan dengan COVID-19, di masa-masa akhir kuliah, ada baiknya aku buat catatan yang bisa bikin aku ulas balik kenangan masa-masa itu.

image-20260423212759341

Suka Menulis dan Bikin Blog Pribadi

Banyak hal-hal yang bisa aku petik dari kegiatan berjurnal dan menulis ini. Aku jadi suka menulis blog pribadi, yang tentu saja tidak akan aku sebarkan di sini—karena ya, pribadi. Tapi, dan lagi, kekuatan puncakku diketahui saat aku menyelesaikan jurnal perjalananku ke Asia Tengah sendirian. Aku sanggup menulis hingga 12000-13000 kata selama 10 hari, yang diterjemahkan menjadi sekitar 68 menit waktu baca. Menjadi ajang pamer? tidak. Hal ini aku lakukan demi kepuasan diri sendiri dan kenangan terhadap (mungkin) pengalaman sekali seumur hidup.

Implikasinya menjadi macam-macam, aku jadi suka menulis dan membaca bahkan jauh sebelum AI atau kecerdasan buatan menjadi tren di dunia. Aku kerja di dunia IT dan komputer. Pada hari kerja, aku harus berada di depan layar monitor setidaknya 8 jam sehari, menggunakan AI dalam pekerjaan sehari-hari menjadi hal yang tidak asing karena bantuannya yang bisa mempercepat pekerjaan asal yang aku lakukan.

Tapi semua itu menjadi hal yang buruk bagiku. Menurutku, itu juga menjadi hal buruk bagi semua orang yang ada di industri ini. Orang-orang menjadi malas, lugu, dan mudah percaya dengan apa pun yang dihasilkan dari buah pikir mesin ide itu.

Menurutku, manusia butuh lebih banyak melakukan hal menghasilkan yang mereka sukai, bukan hanya sekadar menyerap. Menyerap tidak buruk, tapi seyogianya ada hal yang bisa keluar dari diri sendiri, dan berguna untuk orang lain.

Tidak Semua Orang Punya Hak Istimewa?

Dunia merupakan bentuk dasar dari ketidakadilan yang sesungguhnya. Tidak semua orang mulai dari titik yang sama. Tidak juga besar di lingkungan, punya kemampuan ekonomi, intelijen, dan kesempatan yang sama. Banyak orang yang hebat dalam berkarya seni, punya bakat tarik suara, mengurus channel Youtube dengan pengikut ribuan, kemampuan lebih dalam sains, paras dan tubuh yang menarik, kesadaran masyarakat yang lebih, dan kepribadian yang memikat. Manusia punya kemampuan dan kebebasan untuk berbuat.

Cobalah untuk berhenti baring-baring, scroll X, bermain game, belajar, bekerja, mendengarkan apa pun. Berhenti beraktivitas dan cobalah bosan sejenak. Ini bukan blog motivasi, jadi tenang saja. Tidak ada belajar mengajar di sini. Hanya postingan refleksi dan renungan.

  • Apakah hidup sudah cukup?
  • Apakah ingin bertumbuh?
  • Apakah masih kurang semangat untuk menekuni kegiatan sekarang?
  • Apakah malah ingin mencoba hal baru?

The Art of Doing

Balik ke curhat dan cerita-cerita tentang kegiatanku. Akhir-akhir ini kesibukanku ialah bekerja dan menonton video essay, terkadang menulis jurnal, dan belajar bahasa baru. Kadangkala juga belajar memasak, mengobrol dengan teman atau orang asing, pergi berolahraga dan membosankan diri.

Di kala bosan, kadang bermain game, menonton film, atau melakukan ritual kurang sopan. Kegiatan sampingan utama ialah menekuni hobi menulis dan belajar bahasa. Tidak ingin munafik, tapi karena kebetulan membuat senang dan memang produktif.

Oke, semangat beraktivitas! ⸜(。˃ ᵕ ˂ )⸝♡

Comments