Draft: Tulisan Filosofi
Pengantar
Sudah lama aku berpikir tentang ilmu-ilmu filsafat, tentang ilmu yang mendasari pola pikir seorang manusia. Bagaimana bentuk asli seorang manusia baik secara jasmani (fisik)—hal-hal yang tidak bisa dikendalikan oleh emosi, dan rohani (mental)—hal-hal yang bersumber dari renungan dan pikiran manusia.
Menuangkan ide menjadi sebuah tulisan paling pantas dilakukan dalam bahasa asal yang seseorang punya. Dimana seseorang bisa secara penuh mengekspresikan semua yang ingin ia katakan tanpa terbatas oleh kendala ruang dan keterbatasan bahasa.
Memang betul ada beberapa kata yang bisa dituliskan dalam bahasa-bahasa lain yang mengandung makna yang tak terjembatani oleh bahasa. Tapi berdasarkan ilmu linguistik, ada beberapa suatu subhimpunan ide dasar yang membuat sebuah bahasa mampu untuk menyampaikan semua ide modern. Sayangnya, memang tidak semua bahasa mampu melakukan ini—seperti sebuah bahasa yang tidak memiliki angka numerik—.
Bahasa Indonesiaku sudah mulai pudar, mungkin karena jarang menulis dalam bahasa ini. Tapi runtutan grammar dalam Bahasa Indonesia sudah tertanam sejak aku masih kecil. Jadi bukanlah masalah seperti aku berbicara dalam bahasa Inggris. Meskipun pilihan kata kadang menjadi masalah, membuat suatu kalimat sederhana terdengar janggal dan kurang natural.
Peringatan dalam tulisan ini, semua yang aku tuliskan ialah pendapat pribadi, tidak ada riset konkret dan empiris yang mendukung ide-ide yang tertulis dalam tulisan ini. Stigma dan prasangka pun tentu saja akan masuk dalam tulisan ini. Kecaman tidak bisa dihindarkan karena ide-ide yang menentang norma sosial dan kerukunan yang ditetapkan oleh masyarakat di suatu lingkup tertentu.
Tentang Ilmu Filsafat
Memiliki penghasilan yang stabil, rutinitas yang baik, hidup yang mapan, dan tujuan yang tak pasti membuat seorang manusia bisa berpikir lebih jauh mengenai ilmu filsafat. Definisi ilmu filsafat menurutku ialah suatu ilmu umum yang mendukung jalan hidup manusia.
Ilmu filsafat tersebar menjadi beberapa ilmu lain, tapi tetaplah menjadi dasar bagi semuanya. Kemampuan dasar seseorang untuk mendefinisikan sesuatu tanpa menengok wikipedia atau bertanya kepada AI adalah kemampuan filosofi dasar yang mencermikan intelegensi filsafat seseorang.
Pendapat di atas adalah contoh dari buah pikir filsafat yang kumaksud. Tidak ada definisi atau sumber khusus, dan hanya pendapat pribadi yang nilai kebenarannya subjektif.
Ilmu filsafat bersifat preskriptif, artinya ia dibentuk melalui pikiran yang tidak ketat dan berdefinisi sejak awal. Buah pikir filosofi bisa muncul dari mana saja, dan tentunya tidak salah bila terinspirasi dari kumpulan ide-ide yang sudah ada. Tidak janggal juga bila dua buah pikir yang sama muncul tanpa diketahui satu sama lain.
Bahasa dan lingustik adalah bentuk dari ilmu filsafat. Bahasa merupakan evolusi paling tinggi manusia. Dengan bahasa setiap orang bisa menyebarkan ide dan membentuk sebuah otak yang lebih besar. Inilah yang menciptakan AI, revolusi industri, dan ide-ide gemerlap lainnya. Bisa dibilang, seorang bayi "belajar cara belajar" dan merupakan awal mula buah pikir filosofi tercipta.
Tentang Tujuan Hidup Manusia
Otak manusia dirancang untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan biologi manusia. Dari cara bernapas, berkembang biak, merasakan kekecewaan, kesedihan, adiksi, dan kebahagiaan, semuanya membentuk arah peradaban manusia. Hingga di titik perang, kejahatan, romansa, hiburan, penggolongan, gotong-royong, semuanya tercipta dari akar biologis manusia.
Perbedaan dan variasi merupakan hal yang ada di kehidupan manusia. Tentang bagaimana manusia harus menjalani hidupnya, semuanya dipikirkan dalam ilmu filsafat. Tujuan hidup manusia adalah apa yang dia percayai pada saat ini. Apa yang dipercayai saat ini terbentuk oleh motivasi-motivasi yang dia anut selama hidupnya. Baik dari luar, maupun dari dalam. Walaupun sebenarnya, tempat dia tumbuh menjadi asal muasal motivasi hidupnya, dengan suatu runtutan jalan hidup, ia dapat menge-reap apa yang dia lalui dan menjadikannya motivasi lain sebagai dasar ilmu filsafatnya.
Tentang Invarian Kelahiran
Konstruksi sosial menciptakan sistem kapitalis dimana setiap manusia memiliki kekayaan duniawi yang berbeda-beda. Hal ini membuat titik mulai setiap manusia berbeda, yang tentunya memengaruhi bagaimana cara berpikirnya. Inilah yang menciptakan perbedaan mendasar pola pikir seorang manusia. Terlebih lagi tempat dimana ia dilahirkan. Budaya-budaya yang terbentuk dalam dirinya menggambarkan perimeter baik dan buruk dalam standarnya. Definisi baik dan buruk setiap orang dan budaya berbeda-beda. Hal ini tidak terelakkan. Menggunakan narkoba misalnya, berdasarkan hukum dan/atau kepercayaan mayoritas orang Indonesia, ini merupakan hal buruk. Berdasarkan hukum dan/atau sebagian wilayah Amerika, hal ini menjadi "tidak baik dan tidak buruk". Sehingga standar moral setiap individu bisa dikatakan tidak sama.
Ku gambarkan sebagai perimeter karena ada hal hal mendasar yang merupakan himpunan yang dimiliki oleh semua orang. Sisanya hanyalah sekumpulan standar moral ya/tidak.
Berlanjut